Kuliah Tamu MK Psikologi Sosial
Sejak awal tahun 2021, bencana alam terus terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan, jumlahnya mencapai ribuan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.045 kejadian bencana alam sejak tanggal 1 Januari 2021 hingga 5 April 2021. Mulai dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), erupsi gunung Merapi, banjir, gempa bumi, kekeringan, hingga tanah longsor. Terdapat beberapa persoalan yang membuat jumlah korban perempuan pada situasi bencana cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan korban laki-laki. Kondisi perbedaan fisik antara perempuan dan laki-laki, marginalisasi politik, dan ketergantungan perempuan terhadap laki-laki menyebabkan semakin meningkatnya kerentanan perempuan pada situasi bencana. Situasi bencana tentunya berimbas langsung bagi seluruh aspek kehidupan masyarakat dan seringkali membawa pengaruh ganda bagi perempuan. Isu gender menjadi dimensi yang sangat dalam pada situasi bencana.
Kuliah tamu yang diselenggarakan oleh tim pengampu Mata Kuliah Psikologi Sosial untuk memenuhi materi terapan psikologi sosial, menghadirkan pakar gender dan bencana dari Warren Wilson College yaitu Prof. Siti Kusujiarti., Ph.D pada tanggal 29 Mei 2021 pukul 08.00-10.00 WIB via Zoom Meeting (https://zoom.us/j/92462553223?pwd=cVA5b3BBcVhKQ2ZGK0s1Z29pQWVoUT09).
Pada paparannya, beliau menyampaikan sejumlah hasil kajian yang menemukan perbedaan aspek ancaman, kerentanan, dan resiko dalam bencana antara perempuan dan laki-laki. Dampak yang dirasakan oleh laki-laki dan perempuan akan sangat tergantung pada tingkat kerentanan masing-masing kelompok tersebut. Kondisi rentan pada situasi bencana dan akibatnya dapat dikonstruksi secara sosial dan melalui dimensi gender. Peran perempuan yang dilekatkan berdasarkan sistem patriarki membuat perempuan ditempatkan sebagai pemegang tanggung jawab terhadap peran-peran domestik dan perawatan dalam keluarga hingga masyarakat. Namun, secara bersamaan peran dan tanggung jawab yang diemban oleh perempuan terbentur pada keterbatasan mereka dalam mengakses hak-haknya sebagai korban bencana.
Guna mengurangi ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan, professor yang telah mengeluarkan publikasi terbarunya yang berjudul “Violating Social Norms” dalam buku Creating Equality at Home yang diterbitkan oleh Cambridge University Press (2020) ini menyarankan adanya pelatihan bagi perempuan untuk dapat menyuarakan pendapat serta perlunya kegiatan peningkatan kesadaran peran perempuan dalam pengurangan risiko bencana. Selain itu, pengorganisasian jangka panjang menjadi kegiatan yang tidak boleh terlupakan agar solidaritas dalam pengurangan risiko bencana dengan mencerdaskan, memandirikan, mensejahterakan, serta terlibat aktif (berpartisipasi) semakin kuat.


![[:id]Roleplay Pengelolaan Jurnal Berbasis OJS (Open Journal System)[:]](https://psikologi-ub.themastej.com/wp-content/uploads/2017/02/Mediapsi-Roleplay.jpg)
![[:id]General Lecture by Prof. Deborah Turnbull (University Of Adelaide, Australia)[:]](https://psikologi-ub.themastej.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG_5781-1620x1080.jpg)
![[:id]Workshop Stakeholder Management in Higher Education[:]](https://psikologi-ub.themastej.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG_6426-1620x1080.jpg)
![[:id]Scholarship Talkshow With LPDP Awardee[:]](https://psikologi-ub.themastej.com/wp-content/uploads/2017/06/2.jpg)